Tradisi resolusi tahun baru merupakan kegiatan yang dilakukan oleh banyak orang untuk menyambut pergantian tahun. Sejarahnya bisa ditelusuri kembali sekitar 4.000 tahun lalu, dimulai oleh orang Babilonia kuno.
Orang Babilonia Kuno
-
Tahun Baru Babilonia: Orang Babilonia pertama kali merayakan tahun baru sekitar pertengahan Maret selama festival 12 hari yang disebut Akitu. Mereka mengadakan perayaan ini untuk menghormati dewa mereka.
-
Janji dan Pengharapan: Selama perayaan Akitu, orang Babilonia menepati janji kepada dewa-dewa, termasuk janji untuk mengembalikan pinjaman dan membayar utang. Mereka percaya jika janji ini dipenuhi, dewa akan memberkati mereka.
Romawi Kuno
-
Peran Julius Caesar: Di Romawi kuno, Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai awal tahun baru sekitar 46 SM. Bulan Januari, dinamai dari dewa Janus, dianggap memiliki makna simbolis, memandang kebelakang dan ke depan.
-
Janji kepada Dewa: Orang Romawi mempersembahkan pengorbanan kepada Janus dan membuat janji untuk berperilaku baik di tahun yang akan datang.
Tradisi Kristen
- Meditasi dan Pembaharuan: Umat Kristen awal menggunakan awal tahun baru untuk merenungkan kesalahan masa lalu dan bertekad memperbaiki diri di masa depan.
Kebaktian Malam Tahun Baru
- Inisiatif John Wesley: Pada tahun 1740, pendeta John Wesley menciptakan Kebaktian Pembaharuan Perjanjian, menjadi alternatif spiritual untuk perayaan duniawi.
Resolusi Tahun Ini
- Dari Religius ke Sekuler: Meskipun awalnya terkait dengan janji kepada dewa-dewa, resolusi tahun baru saat ini lebih bersifat sekuler dan fokus pada perbaikan diri sendiri.
Meski tingkat keberhasilannya bervariasi, tradisi membuat resolusi tetap populer hingga sekarang, dengan banyak orang melihatnya sebagai kesempatan untuk memulai tahun baru dengan niat baik.